Proteksi Dana Pendidikan Anak

PRUCerah Plus

JAMINAN DANA PENDIDIKAN ANAK ANDA

Asuransi Pendidikan sebagai Jaminan Tersedianya Dana Pendidikan Anak

Sebaiknya Anda sudah mulai memisahkan sebagian dari pengeluaran bulanan untuk kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang, sehingga anda tidak kebingungan ketika harus mengeluarkan dana besar untuk jangka panjang.

Salah satu pos dalam rencana jangka panjang adalah dana pendidikan anak. Hal ini karena, biasanya biaya pendidikan anak dibayarkan sekali waktu dengan jumlah yang cukup besar. Misalnya membayar uang pangkal dan/atau UKT (uang kuliah tunggal).

​Biaya kuliah terus mengalami kenaikan setiap tahunnya, tentu hal ini akan membuat Anda kebingungan bila tidak dipersiapkan sejak dini. Inflasi pendidikan di Indonesia sekitar 10% per tahun jauh di atas inflasi tahunan harga barang di Indonesia rata-rata selama 10 tahun terakhir sebesar 4,23% per tahun.

Hal ini berarti setiap tahun rata-rata biaya pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 10%. Jika tahun ini biaya kuliah Rp 10 juta per semester, maka tahun depan akan menjadi Rp 11 jt per semester, dan tahun berikutnya akan menjadi Rp 12,1 juta per semester. Biaya kuliah pada waktu 10 tahun yang akan datang akan menjadi Rp 25 juta per semester.

Oleh karena itu untuk persiapan dana pendidikan jangka panjang anak, sebaiknya jangan Anda tunda dan harus dipersiapkan dari sekarang. Jika dilakukan sedini mungkin, maka akan meringankan Anda untuk menyisihkan uang setiap bulannya.

​PRUCERAH PLUS

Asuransi Pendidikan yang Memberikan Ketenangan karena Adanya Kepastian Tersedianya Dana Pendidikan Meskipun Orang Tua Meninggal Dunia atau Sakit Kritis

Kriteria Umum

Jenis Pemegang Polis :

  • Individu; Tertanggung harus memiliki hubungan kepentingan yang dapat diasuransikan dengan Pemegang Polis.

​Usia Masuk :

  • Peserta Utama : 1 – 18 tahun (ulang tahun berikutnya)
  • Peserta Tambahan: 19 – 55 (ulang tahun berikutnya)

​Frekwensi Pembayaran :

  • Bulanan, Triwulanan, Semesteran & Tahunan

​Periode Pembayaran :

  • 5 Tahun atau sesuai masa tunggu

​Masa Tunggu :

  • 8 – 18 Tahun sejak polis terbit

​Komposisi Kontribusi :

  • Minimum kontribusi Rp500.000 per bulan atau Rp5.500.000 per tahun

​Masa Kepesertaan Asuransi :

  • Sejak Polis Terbit Sampai dengan 4 tahun setelah Masa Tunggu Manfaat Dana Pendidikan

Pentingnya Asuransi Pendidikan

Penyakit Baru Muncul Tiap Tahun, Berpotensi Jadi Penyakit Kritis

Semua jenis penyakit, baik menular ataupun tidak menular, berpotensi menjadi penyakit kritis. Hal tersebut dikemukakan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Laurentius Aswin Pramono SpPD MEpid. Ia menyebutkan, para ahli memperkirakan lima penyakit baru pada manusia muncul setiap tahun.

Tiga di antaranya bersumber dari binatang, serta bisa menyebabkan kondisi kritis pada pasien tersebut. “Penyakit kritis dapat menyerang siapa saja dan sebaiknya masyarakat tidak terpaku hanya menghindari suatu penyakit tertentu,” ujar Aswin dalam acara bertajuk “PRUTotal Critical Protection dan Syariah: Produk Inovatif untuk Perlindungan Kondisi Kritis tanpa Batasan Jumlah Penyakit”, Jakarta, Senin (13/1/2020).

Secara global, Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) mengkategorikan permasalahan kesehatan mencapai 68.000 jenis. Sebanyak 6.172 jenis merupakan penyakit langka. Namun, semua jenis penyakit baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular dari keseluruhan kategori penyakit oleh WHO tersebut, berisiko menjadi penyakit kritis

Indonesia tak lepas dari bahaya kesehatan tersebut. Oleh karena itu, menurut Aswin, kita harus siaga terhadap kemunculan penyakit-penyakit baru yang bisa jadi belum ditemukan tatalaksana dan terapinya. Berbagai permasalahan kesehatan itu dapat terus bertambah akibat banyak faktor. Seperti gaya hidup, jarang berolahraga, aktivitas yang kurang, hingga pengaruh globalisasi hingga perubahan iklim.

Antisipasi dan dampak penyakit kritis Masyarakat perlu mengantisipasi ancaman penyakit kritis ini dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih baik. “Sadari bahwa kesehatan itu mahal, tapi investasi untuk hidup sehat itu pilihan terbaik,” ujarnya.

Penyakit kritis dapat berimplikasi pada aspek psikologis, sosial, hingga finansial yang dapat menggoyahkan stabilitas ekonomi dan masa depan keluarga. Lebih lanjut, kata Aswin, penyakit kritis tidak hanya menimbulkan beban keluarga berupa biaya pengobatan di rumah sakit, namun juga biaya hidup sehari-hari selama sakit.

Sebagai contoh, kata Aswin, suatu penelitian menyebutkan bahwa 83 persen pasien multidrug-resistant tubercolosis dari berbagai pusat kesehatan di Indonesia mengalami dampak katastropik terhadap keuangan rumah tangga akibat penyakitnya. Dalam rentang waktu enam bulan setelah diagnosis, 86 persen pasien kehilangan pendapatan atau nafkah dari pekerjaannya. Sebanyak 32 persen harus meminjam uang, dan 18 persen dari mereka mengakui harus menjual properti atau aset untuk menutupi pengeluaran berobat.

“Bayangkan ini, kalau kita sakit itu bukan cuma biaya untuk terapi atau obat saja, tapi juga biaya kehidupan dan risiko kehilangan pekerjaan bisa saja terjadi,” tuturnya.

Maka, ditegaskan oleh Aswin, penting sekali untuk mempersiapkan dan melakukan antisipasi seperti dengan investasi berupa ansuransi kesehatan. Setidaknya, hal ini akan meminimalisikan dampak terburuk dari sosial, finansial, dan fisik ketika Anda tidak dapat menghindari penyakit kritis yang terjadi tanpa diketahui secara pasti. (KOMPAS.com – 13/01/2020).

Efek Dari Mahalnya Biaya Perawatan Sakit Kritis pada Dana Pendidikan Anak

Mahalnya biaya perawatan sakit kritis menyebabkan tingkat kematian menjadi tinggi dikalanagan penderita penyakit kritis tersebut di atas. Efek yang tidak kalah menyedihkan juga adalah hilangnya kesempatan bekerja dan mencari nafkah bagi si penderita sakit kritis tersebut. Hal ini tentu saja akan terjadi karena penderita sakit kritis tidak akan bisa bekerja dalam performa terbaiknya sepeti ketika masih sehat.

Sebagai efek domino dari hilangnya kesempatan bekerja/berusaha atau meninggal dunia adalah gagalnya terbentuknya dana pendidikan bagi anak-anak penderita sakit kritis. Prioritas utama finansial keluarga tentu akan bergeser dari menyiapkan masa depan anak menjadi menyembuhkan dan perawatan tahap lanjut bagi si penderita sakit kritis tersebut.

Untuk itu penting kiranya bagi pencari nafkah aktif disamping melindungi kesehatan dan incomenya, juga perlu dipersiapkan proteksi bagi terjaminnya dana pendidikan anak jangka panjang.

Dana atau tabungan pendidikan secara mandiri masih rawan terhadap kebocoran akibat kebutuhan mendesak/darurat lainnya, tetapi dengan asuransi pendidikan yang justru membebaskan iuran wajib bulanan bila orang tua/pencari nafkah utama terkena sakit kritis atau meninggal dunia, maka tujuan utama menjamin tersedianya dana pendidikan anak jangka panjang.

PRUCerah adalah solusi cerdas dan bijaksana bagi anak-anak di Indonesia.